Menyebut NamaNya

Saya menuliskan tulisan ini pada dini hari. Awalnya saya ingin menulis soal dosa dan bagaimana kita mengaku dosa kita kepadaNya. Tapi Bapa ingin agar saya menuliskan tentang suatu hal, yakni NamaNya.

Jika saya bertanya kepada anda, siapakah nama Tuhan kita? Anda akan dengan mantap menyebut Yesus Kristus. Siapakah Nama Bapa Surgawi? Allah Bapa? Bukan. Namanya YAHWEH.

Jurnal tentang nama Bapa Surgawi yang disebut Yahweh ini bisa anda temukan dengan mudah di internet. Lengkap dengan ayat pendukungnya. Yang ingin saya bahas disini adalah mengapa kita harus menyebut Nama dan bukan jabatanNya.

Tuhan/Allah/Dewa/Nabi/Rasul adalah jabatan. Kita mengenal Rasul Paulus, Rasul Petrus, Nabi Yunus, Dewa Krisna, dan lain sebagainya. Jabatan tersebut bisa saja diberikan oleh seseorang (diangkat menjadi), atau diakui sendiri.

Contoh, jika hari ini anda membuka usaha, anda adalah seorang pengusaha, anda mengakui/mengangkat diri anda sendiri menjadi pengusaha tanpa harus diakui oleh orang lain. Lalu, jika hari ini anda diangkat menjadi seorang manager, anda diakui/diangkat oleh orang lain. Sampai disini mengerti maksud saya?

Kita kembali soal jabatan Tuhan. Tuhan adalah jabatan tertinggi yang bisa diberikan oleh manusia terhadap sesuatu yang mereka sembah. Sesuatu yang bisa mereka jadikan pegangan hidup lewat ajaran-ajaran yang diturunkan.

Si Pemegang jabatan tertinggi tersebut tentu saja memiliki nama. Seperti semua yang ada di dunia ini memiliki nama, apalagi Tuhan? Apakah anda mau dipanggil dengan jabatan anda? “Selamat pagi bapak koordinator lapangan” atau “Selamat siang ibu akuntan publik” rasanya menggelikan seperti di sinetron. Bukankah anda ingin dipanggil dengan nama anda, jika anda ingin dipanggil dengan nama anda, apalagi Bapa di surga pencipta langit dan bumi?

Yesus Kristus atau Yahshua HaMasiakh
Allah Bapa atau Yahweh/Bapa Yahweh
Roh Kudus atau Ruach Hakodesh

Miliki hubungan yang lebih intim dengannya dengan memanggil NamaNya, bukan sekedar jabatanNya. Karena jika anda memanggil dengan jabatanNya, itu bisa saja menunjuk pada yang lain. Jika anda hanya memanggil dengan kata Tuhan saja, saya bisa saja bertanya: “Tuhan yang mana?” Penyembah setan juga menganggap lucifer sebagai Tuhan mereka.

Jika anda berkata: “Yang penting kan hati kita mengarah pada Yesus” well, jika benar hati anda mengarah padaNya, kenapa anda tidak mau mengatakan/menyebut NamaNya? Jika benar anda adalah pengikut Kristus, mengapa anda tidak mau menyebut NamaNya?

“Supaya dalam NAMA YESUS bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi” Fil 2:10

Masih tidak mau menyebut Nama diatas segala nama? Resiko tanggung penumpang.. Shalom, Yesus Kristus memberkati anda!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s